12 Tempat Wisata di Mojokerto yang Wajib Kamu Kunjungi

mojokerto

12 Tempat Wisata di Mojokerto yang Wajib Kamu Kunjungi – Jawa Timur tak hanya punya Surabaya atau Malang yang populer. Kota Mojokerto juga patut dijadikan daftar destinasi liburan yang menarik bersama teman atau keluarga. Terletak sekitar 50 km dari ibu kota provinsi Jawa Timur, Anda cukup menempuh perjalanan darat sekitar 2 jam dari Surabaya untuk tiba di kota onde-onde ini.

Siapa sangka kota kecil ini memiliki sejuta pesona yang patut dikunjungi? Dari mulai wisata alam sampai peninggalan situs-situs bersejarah menjadi daya tarik tersediri di Mojokerto. Wisatawan yang datang pun beragam, tak hanya mereka yang berasal dari Jawa Timur saja, tapi juga provinsi lain di Indonesia. Nah, penasaran mana saja tempat wisata tersebut? Yuk, simak daftarnya berikut!

1. Maha Vihara Mojopahit

Saat berkunjung ke Mojokerto, sempatkanlah untuk mampir ke Maha Vihara Mojopahit. Wihara ini terletak di desa Belijong, Trowulan, dan hanya berjarak sekitar 300 meter dari jalan raya. Anda bisa berkendara sekitar 14 km dari pusat kota Mojokerto sampai ke Jl. Raya Trowulan, kemudian belok kiri dari Jl. Candi Baru, kemudian belok kanan sampai ke lokasi.

Didirikan sejak tahun 1989, wihara ini dibangun dengan desain utama ala arsitektur Jawa berbentuk joglo. Namun, di area depan, Anda akan melihat perpaduan apik antara budaya Jawa, India, dan Tiongkok.

Daya tarik wihara ini terletak pada patung Buddha tidur yang memiliki panjang 22 meter, lebar 6 meter, dan tinggi 4,5 meter. Patung yang terletak di bagian kiri belakang bangunan utama wihara ini adalah yang terbesar ketiga di dunia. setelah Thailand dan Nepal, sekaligus menjadi patung Buddha terbesar di Indonesia.

Halaman depan wihara tampak selalu tertata bersih dan rapi sehingga sering dijadikan tempat berfoto oleh para wisatawan. Jika penasaran soal sejarahnya, Anda bisa melihat relief di dinding pondasi bagian bawah patung. Di sana, ada sejarah kehidupan dan ajaran Buddha yang bisa dipelajari. Untuk mengunjungi objek wisata ini, Anda cukup membayar biaya parkir sebesar Rp2.000 untuk motor, Rp4.000 untuk mobil, dan Rp 10.000 untuk bus.

2. Puncak Watu Jengger

Dulunya, Puncak Watu Jengger bukanlah kawasan favorit para pendaki. Namun, keindahannya mulai menarik hati wisatawan yang datang ke Mojokerto. Terletak di desa Tawangrejo, Kecamatan Jatirejo, Puncak Watu Jengger menyajikan pemandangan pegunungan yang sangat indah dari ketinggian. Pengunjung yang ingin datang ke sini bisa mengambil jalur Surabaya-Krian yang memakan waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan.

Daya tarik utama tempat wisata ini adalah kawasannya yang asri dengan pemandangan bukit yang menyejukkan mata. Memang, untuk bisa sampai ke puncak, Anda harus melalui jalan menuju desa yang sempit dan berbatu. Belum lagi upaya yang harus dilakukan untuk mendaki puncak selama kurang lebih 1 jam pendakian.

Namun, rasa lelah tersebut akan terbayar manakala Anda telah sampai di puncak. Beragam vegetasi hutan dan hawa sejuk di sana adalah kemewahan yang jarang Anda temui di kawasan perkotaan. Di sebelah kiri-kanan puncak terdapat jurang yang cukup curam, sehingga Anda harus ekstra hati-hati dalam melangkah. Karena masih belum banyak orang yang tahu akan keindahan Puncak Watu Jengger, kondisi puncak masih relatif sepi dan bisa digunakan untuk berkemah.

3. Gunung Penanggungan

Kawasan Mojokerto tampaknya menjadi rumah bagi beberapa puncak pendakian favorit pencinta olahraga ekstrem. Selain Puncak Watu Jengger, ada juga Gunung Penanggungan yang berlokasi di kecamatan Ngoro, Mojokerto. Dari jalur Mojosari-Mojokerto, Anda bisa berkendara menuju Trawas sampai ke Jalan Raya Jolotundo untuk bisa sampai ke lokasi parkir para pendaki.

Gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi ini memiliki ketinggian 1653 mdpl dan jalur yang cukup terjal untuk sampai ke puncak. Di kawasan pendakian, terdapat beberapa bukit yang sering dijadikan tempat berkemah, seperti Bukit Bekel, Bukit Gajah Mungkur, Bukit Sarah Klopo, dan Bukit Kemuncup.

Di salah satu jalurnya, yakni jalur Jolotundo, ditemukan berbagai peninggalan situs kuno dengan corak agama Hindu-Buddha. Lebih dari 116 peninggalan bersejarah pernah ditemukan, seperti candi, prasati, patung, dan sebagainya.

Wisatawan yang ingin menjajal terjalnya jalur pendakian Gunung Penanggungan harus membawa air minum, karena di sepanjang jalur tidak ditemukan sumber mata air satu pun. Jangan lupa juga membawa kamera untuk mengabadikan keindahan alam dari puncak gunung.

4. Kampung Majapahit

Di Mojokerto, tepatnya di Desa Bejijong, Jatipasar, dan Sentonorejo, terdapat kampung Majapahit. Kawasan ini telah menarik banyak perhatian karena nilai sejarah dan budayanya. Tak sulit untuk menuju Kampung Majapahit. Anda cukup mengikuti jalan utama yang menghubungkan antara Jombang dan Mojokerto, hingga sampai pada gapura Kampung Majapahit.

Kerajaan Majapahit yang berdiri lebih dari 7 abad yang lalu memang menjadi bagian sejarah Indonesia yang sangat berharga. Sisa-sisa reruntuhan berupa bangunan, tembok kuno, dan batuan kuno kembali dibangun oleh pemerintah setempat dan dijadikan cagar budaya.

Bentuk rumah di sini menyerupai pendopo atau rumah kuno khas Jawa dengan empat kayu penyangga. Desainnya memang sengaja dibuat gaya kuno untuk menunjukkan keaslian budaya zaman dulu. Lantainya masih menggunakan batu sungai. Di kampung ini juga, Anda bisa berinteraksi langsung dengan pengrajin batik tulis Majapahit yang merupakan profesi sebagian besar penduduk lokal.

Tujuan awal didirikannya kampung ini adalah sebagai tempat tinggal wisatawan. Namun, penduduk lokal banyak yang memanfaatkannya sebagai tempat usaha. Jika berkunjung ke sini, Anda bisa menyambangi rumah-rumah kuno, atau berinteraksi dengan warga lokal sambil berfoto dan merasakan suasana perkampungan khas kerajaan kuno.

5. OBECH Rafting Mojokerto

Anda penggemar olahraga arung jeram? Cobalah untuk menjajal OBECH Rafting yang berada di area Wisata Bandulan Alam, Pacet, Mojokerto. Di sini, Anda tak hanya bisa menikmati suasana alam yang asri, Anda juga akan merasa tertantang untuk menyusuri sungai beraliran deras yang menegangkan. Dari arah Surabaya, pengunjung bisa mengikuti jalur ke Mojokerto ke arah Pacet dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam.

Selain arung jeram, pengunjung juga bisa melakukan kegiatan menarik lainnya seperti permainan paintball, berkemah, atau mancakrida. Ada beberapa pilihan paket yang disediakan untuk menyusuri derasnya Sungai Pacet, yakni paket Gajah Mada, paket Brawijaya, dan paket Amukti.

6. Candi Kedaton dan Sumur Upas

Terletak di kawasan Desa Santorejo, Trowulan, kompleks reruntuhan ini tak jauh dari Pendopo majapahit. Dari Pendopo Agung, Anda bisa mengambil jalur ke selatan sekitar 500 meter, atau sekitar 1,5 km ke arah barat dari Balai Penyelamatan Arca Mojokerto.

Candi Kedaton masih memiliki struktur bangunan yang cukup terjaga, terbukti dari bangunannya yang masih utuh. Dibandingkan dengan reruntuhan di sekitarnya, jelas sekali bahwa Candi Kedaton masih dijaga oleh masyarakat sekitar.

Adapun ssumur Upas yang terletak di bagian tengah kompleks dulunya dipercaya sebagai tempat latihan para kesatria kerajaan. Tak hanya itu, kesakralan situs ini juga terletak pada kandungan racun yang terdapat di air sumur yang bisa merusak sistem saraf. Di zaman Kerajaaan Majapahit, air sumur sering kali digunakan untuk merendam pusaka.

Selain makna historis, pengunjung akan merasakan aura mistis dari Sumur Upas. Menurut pengakuan juru kunci, sumur ini juga merupakan sebuah terowongan yang menghubungkan Kerajaan majapahit dengan Laut Selatan (Kidul). Jika penasaran dengan sejarah lengkapnya, Anda bisa mengunjungi situs ini dan berbincang dengan sang juru kunci.

7. Candi Kesiman

Bangunan candi lainnya yang bisa Anda temukan di Mojokerto adalah Candi Kesiman. Terletak di Desa Kesiman, candi ini memiliki legenda air suci atau Amerta yang dipercaya oleh masyarakat mampu memberikan kehidupan abadi. Candi yang dibangun di akhir era Kerajaan Majapahit ini, juga kerap dijadikan tempat bersemedi atau melakukan ritual khusus tolak bala.

Candi Kesiman berlokasi di kawasan Pegunungan Pacet sehingga membuat udara dan pemandangan di sini masih asri dan sejuk. Untuk menuju ke lokasi, Anda harus mengikuti jalan desa, sekitar 500 meter dari Jalan Raya Pacet-Gondang.

Di sekeliling candi yang berdiri tepat di lereng bukit ini, terdapat bunga berwarna-warni yang menambah kecantikan pemandangan sekitar. Jika cuaca cerah, pengunjung akan disuguhi pemandangan menakjubkan Gunung Sidiran, Gunung Wlirang, dan Gunung Welirang.

8. Candi Jolotundo

Banyak pengunjung yang tak hanya datang untuk melihat situs bersejarah ini, tapi juga untuk merasakan air yang konon digunakan untuk mandi para raja dan ratu zaman dulu. Kompleks candi dan pemandian dikelilingi oleh pepohonan yang rindang sehingga membuat nyaman wisatawan yang datang.

Lokasi Candi Jolotundo berada di lereng Gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Trawas. Dari Kecamatan Pungging, Anda harus melalui Desa Kesamen lewat jalan yang cukup mulus.

Menurut cerita, candi ini dibangun oleh Raja Udayana dari Bali yang menikahi Putri Guna Priya Dharma dalam rangka menyambut kelahiran Prabu Airlangga, sang anak, di tahun 997 Masehi. Di kompleks candi juga terdapat kolam pemandian yang digunakan sang raja dan ratu.

Yang membuat spesial, air di pemandian ini tetap mengalir meski di musim kemarau. Dengan 52 pancuran air yang jernih, konon katanya kualitas air di pemandian Jolotundo adalah yang terbaik di Jawa.

Di sekitar kompleks juga telah dibangun beberapa pendopo dan gazebo untuk menikmati suasana pegunungan yang asri. Pengunjung hanya perlu membayar tiket masuk sebesar Rp6.000 per orang untuk mengunjungi kawasan ini.

9. Candi Bajang Ratu

Tak seperti candi kebanyakan, Candi Bajang Ratu di Mojokerto hanya menyerupai sebuah gapura. Berlokasi di Desa Temon, Trowulan, candi ini diperkirakan dibangun sekitar abad ke-13 dan ke-14. Dari jalur Mojokerto-Jombang, Anda bisa mengambil ke arah timur sekitar 200 meter sampai ke Dukuh Ngliguk. Dari sana, Anda cukup mengikuti jalan sejauh 3 km.

Dulunya, Candi Bajang Ratu dibangun dalam rangka penghormatan kepada Prabu Jayanegara dari Majapahit. Relief Sri Tanjung di bagian kaki gapura menjelaskan asal-usul didirikannya candi Bajang Ratu. Ada juga cerita yang menjelaskan bahwa candi ini merupakan gerbang menuju Keraton Majapahit yang lokasinya tak jauh dari sana. Bangunan gapura beratap ini sebagian besar terbuat dari batu bata merah, sedangkan bagian lantai tangganya terbuat dari batuan andesit.

Untuk mengunjungi situs bersejarah setinggi 16 meter ini, pengunjung hanya harus membayar tiket parkir seharga Rp 2.000.

10. Candi Brahu

Jika dibandingkan dengan candi-candi lain di Mojokerto, bisa dibilang Candi Brahu adalah yang paling tua usianya. Bahkan, prasasti tembaga Alasantan yang ditemukan di sebelah barat candi menjelaskan bahwa situs ini berusia lebih tua dari Kerajaan Majapahit.

Terletak di Desa Bejijong, Trowulan, pengunjung harus melewati jalan berupa tanah ladang dari jalur Mojokerto-Jombang sejauh 2 km. Supaya tidak tersesat, lebih baik bertanya kepada penduduk yang Anda temui di jalan.

Di lokasi ini, pengunjung bisa menemukan jejak-jejak dua kerajaan besar di Jawa, yakni Majapahit dan Kahuripan. Candi Brahu disebut-sebut dibangun pada masa Kerajaan Kahuripan berdiri atas perintah raja Empu Sendok. Candi setinggi 27 meter ini memiliki perpaduan corak antara agama Hindu dan Buddha. Asal-usul Candi Brahu konon berasal dari sebuah bangunan suci bernama Wanaru atau Warahu.

Pengunjung yang datang biasanya akan menemukan sajen yang diletakkan di pintu candi oleh warga sekitar. Adapun jika merasa lelah, pengunjung bisa beristirahat di bawah pohon-pohon rindang yang ada di sekitar candi.

11. Candi Tikus

Masih berstatus sebagai peninggalan Kerajaan Majapahit, Candi Tikus menjadi destinasi wisata favorit selanjutnya di Mojokerto. Sebelum difungsikan sebagai tempat wisata, dulunya situs ini adalah lokasi pemandian para raja. Masyarakat lokal juga berpendapat bahwa candi ini adalah tempat pemujaan bagi penganut agama Hindu. Di kompleks candi, Anda akan menemukan bangunan reruntuhan menyerupai puncak Mahameru yang dikelilingi kolam.

Dinamakan Candi Tikus karena saat dilakukan proses penggalian, ditemukan tikus dalam jumlah yang banyak. Terletak di Desa Temon, Anda harus melewati perempatan Trowulan, mengikuti jalan sejauh kurang lebih 3 km untuk mencapai lokasi objek wisata ini. Sebelum sampai, pengunjung akan melewati beberapa lokasi wisata lain seperti Candi Bajang Ratu, Museum Trowulan, dan Kolam Segaran.

Daya tarik utama Candi Tikus tidak hanya pada bangunan candi, tapi juga taman yang ada di sekitar kompleks. Banyak pengunjung yang memanfaatkan pemandangan hijau tersebut untuk berpiknik atau berfoto. Rumput-rumputnya ditata rapi, dan di sekitar candi juga terdapat penjual makanan untuk membuat liburan semakin komplet.

Tiket Masuk: Gratis. Biaya parkir sebesar Rp 2.000/motor.

12. Candi Jedong

Namanya memang tidak begitu populer seperti Candi Tikus atau Candi Trowulan, tapi Candi Jedong adalah salah satu objek wisata yang menarik untuk dikunjungi saat berada di Mojokerto. Sayangnya, tidak banyak wisatawan yang datang ke sini.

Anda yang ingin menyaksikan peninggalan sejarah yang berharga ini bisa menuju Desa Wotanmas Jedong, Kecamatan Ngoro, sekitar 30 km ke arah timur dari pusat Kota Mojokerto. Meski cukup jauh, tetapi situs wisata yang satu ini juga terletak di lereng Gunung Gajah Mungkur. Hasilnya, udara dan suasana di sekitar Candi Jedong masih asri dan sejuk.

Wisata bangunan candi yang tampak jelas adalah dua buah gapura tua yang letaknya terpisah. Berdasarkan prasasti yang ditemukan di sekitar lokasi, candi ini diperkirakan telah berdiri ribuan tahun silam, yakni sejak zaman Kerajaan Mataram Kuno.

Masyarakat sekitar menjuluki kedua gapura yang ada di kompleks Candi Jedong sebagai Candi Lanang untuk gapura yang lebih besar, dan Candi Wadon untuk gapura yang ukurannya lebih kecil. Keduanya dibangun menggunakan batuan andesit, dan dihubungkan dengan pagar yang terbuat dari batu bata.

Selain menyambangi peninggalan situs bersejarah di Jawa Timur, Anda juga bisa menikmati suasana asri yang ada di sekitar Candi Jedong. Untuk mengakses objek wisata ini, pengunjung tidak dikenakan tiket masuk alias gratis.

By admin
No widgets found. Go to Widget page and add the widget in Offcanvas Sidebar Widget Area.